
BANJARMASIN — Peran Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) tidak hanya berdampak pada terciptanya lingkungan kampus yang aman, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa yang terlibat di dalamnya.
Hal ini tercermin dari pengalaman dua mahasiswa STIENAS Banjarmasin, Ari Tania Kuari dan Salma Dwi Yanti, yang telah menyelesaikan masa tugas (purna) sebagai anggota Satgas PPKPT.
Ari Tania Kuari mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam satgas memberikan pengalaman yang sangat berkesan dan penuh makna. Awalnya hanya ingin mencoba hal baru, namun ia justru memperoleh banyak pembelajaran penting.
“Saya belajar bagaimana melakukan pencegahan, menyelesaikan masalah dalam tim, berbicara di depan umum, hingga menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan peduli terhadap sesama,” ujarnya.
Ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di luar kampus, termasuk forum yang diselenggarakan oleh Universitas Lambung Mangkurat dan STIMI Banjarmasin yang membahas pencegahan kekerasan seksual. Dari kegiatan tersebut, ia mendapatkan wawasan baru dalam upaya menciptakan lingkungan kampus yang aman.
Senada dengan itu, Salma Dwi Yanti menyampaikan bahwa perannya sebagai petugas Satgas PPKPT memberinya pengalaman berharga dalam membangun empati dan profesionalisme.
“Dalam satgas, saya ikut berperan dalam sosialisasi, edukasi pencegahan kekerasan seksual, serta menjadi bagian dari tim yang siap menerima aduan dengan menjaga kerahasiaan. Dari sini saya belajar pentingnya komunikasi yang baik dan bagaimana menghadapi situasi sensitif,” ungkapnya.
Menurut Salma, pengalaman tersebut juga membentuk kemampuan bekerja sama dalam tim, meningkatkan rasa tanggung jawab, serta melatih kemampuan dalam menyelesaikan masalah secara bijak.
Keterlibatan mahasiswa dalam Satgas PPKPT menjadi bagian penting dari upaya kampus dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi wadah pembelajaran nyata yang membentuk karakter dan kepedulian sosial mahasiswa.
Melalui pengalaman ini, kedua mahasiswa berharap kesadaran akan pentingnya pencegahan kekerasan terus meningkat di lingkungan kampus, sehingga tercipta budaya saling menghormati dan menjaga satu sama lain.